Jumat, 12 Agustus 2011

SESAL KEMUDIAN TIADA ARTI

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup  dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi,  dia selalu mengangap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain,  menggangu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah  kesukaannya. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu  berkata, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."
Ketika agak besar,  sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat  bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu saja  dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya.
Suatu hari,  dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman  baiknya. Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."
Ketika dia agak besar, teman  baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat  temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah  masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan  teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan  jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.
Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang cewek yang sangat  cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk  dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam  waktu yang sesingkat mungkin.
Tentu, dia rindu untuk bertemu  teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat  telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek, besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman  sekerja selalu mau diajak keluar. Jadi, waktupun berlalu, dia lupa sama  sekali untuk menelepon teman-temannya.
Setelah dia menikah dan punya  anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia  tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah  baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah  menyalahkannya. Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin  punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya "Aku cinta kamu", tapi dia  tidak pernah melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok akan  mengatakannya. "
Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun  anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan berpengaruh pada anak-anaknya.  Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu  mereka dengan ayahnya.
Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya  tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi,  dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia  baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum sempat berkata "Aku  cinta kamu", istrinya telah meninggal dunia.
Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur  diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar  bahwa anak anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang  peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.
Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang  terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang  semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70.  Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand,dan negara-negara lain bersama  istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo  tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan  suster yang merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak  pernah dia rasakan sebelumnya.
Saat dia mau meninggal, dia memanggil  seorang suster dan berkata kepadanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari  dulu...." Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir, Dia meninggal  dunia dengan airmata dipipinya.
Apa yang saya ingin coba katakan pada  anda, waktu itu nggak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum  benar-benar menyadari, anda ternyata telah maju terlalu jauh.
Jika  kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah! Jika kamu merasa ingin  mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.
Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin  bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dan cinta dia, jangan tunggu sampai  terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu  dia, hari ini tidak pernah akan datang.
Jika kamu selalu pikir bahwa  besok akan datang, maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru  sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu.
Keinginan yang tertunda untuk mengungkapkan hati dan perasaan kita pada orang yang kita sayangi, baik anak suami atau istri akan menjadi ganjalan buat batin kita, karena kita tidak tahu dengan berjalannya waktu kebaikan atau keburukan yang mereka dapat. Walaupun sedikit waktu yang kita luangkan untuk mencurahkan hati dan perhatian kita pada orang-orang yang kita sayangi, akan menjadi obat batin walaupun sudah ditelan waktu.
Jangan tunda sampaikan pesan moral ini  ke sahabat-sahabat anda.....  Atau.... masih ada hari  esok.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar